Seorang gadis berpasmina hitam tengah berdiri di depan mall. Beberapa kali ia menengok ke kanan dan ke kiri seolah menunggu kehadiran seseorang.
"Mana, sih mereka," gumamnya pelan. Ia melihat jam yang melingkar di tangan kirinya yang sudah menunjuk angka satu lebih dua puluh menit.
"Hai, May. Sorry banget, ya. Gue telat. Biasa, macet di mana-mana." Sebuah tepukan di bahu membuat gadis berpasmina langsung membalikkan badan.
"Christ, kebiasaan bikin kaget--"
"Wow, kamu glazed banget, May!" pangkas Christ cepat. Ia memindai wajah dan seluruh tubuh sang Sahabat yang sudah lama tidak berjumpa dengannya. "Pakai skincare sultan apa, sih? Bikin ngiri aja, deh," lanjutnya tertawa.
Mayya tersenyum merona mendengar pujian sahabatnya. Baru saja mulutnya membuka akan bicara, dari kejauhan ia melihat seorang gadis yang melambaikan tangan sambil berlari kecil ke arahnya.
Mayya menajamkan pandangan. Setelah yakin itu gadis yang ia tunggu, ia pun membalas lambaian tangannya, membuat Cristian pun melihat ke arah yang sama.
"Hai, May," sapa sang Gadis dengan napas tersengal setelah tiba di depannya.
"Assalamualaikum, Syafa," sapa Mayya meraih tangan sahabatnya yang baru datang dan menjabatnya erat tetapi malah mendapat pelukan.
"Wa'alaikumussalam. Aku minta maaf, ya. Aku kesasar tadi. Maklum baru seminggu di sini." Sebuah anggukan dan senyuman Syafa lihat setelah mengurai pelukannya.
"Ya, udah. Yuk, kita langsung ke tekape," ajak Mayya menoleh ke Cristian dan Syafa.
"Yuk, ah," jawab mereka kompak.
Hari ini Mayya mengajak dua sahabatnya untuk ke salon bersama. Melakukan perawatan wajah untuk persiapan hari bahagia Mayya. Satu bulan lagi ia akan menikah.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju lantai tiga.
"May, kamu beda banget sekarang. Wajahmu itu, lho. Sampai-sampai aku pangling tadi."
"Masa, sih?"
"Heum. Cerita, dong pakai perawatan apa?" tanya Cristian, sahabat yang telah lama tidak berjumpa dengannya.
"Memang kenapa dengan wajahku?" pancing Mayya membuat Crist menarik tangan Mayya dan menghentikan langkahnya, menepi dari keramaian lalu lalang pengunjung mall. Syafa pun ikut berhenti dan menyimak percakapan mereka.
"Gimana, ya? Wajahmu, tuh ..." Christ terdiam sesaat sambil terus memandangi wajah ayu alami Mayya.
"Glowing, maksud kamu, Crist?" tanya Syafa ikut nimbrung dalam obrolan mereka.
"Bukan, Fa. Bukan sekedar glowing. Ini lebih dari glowing. Mengkilap, bercahaya, dan lembut, gitu, loh. Makanya aku tadi sebut glazed."
"Hm, glazed? Apa itu? Aku baru dengar, tuh. Selama ini kan yang ngetren kulit glowing, Christ. Bukan glazed," protes Syafa.
"Itu istilah yang pernah gue baca di salah satu blog kecantikan, Fa. Tapi sayangnya di sana tidak disebutkan nama merk skincare yang bisa membuat kulit seperti itu."
"Mau tau jawabannya? Yuk!" Mayya maraih tangan kedua sahabatnya mengajak mereka meneruskan langkah ke salon langganannya.
"Siang, Mbak Mayya," sapa gadis berparas ayu di meja resepsionis. "Ada yang bisa dibantu?" tanyanya lebih lanjut.
"Siang, Mbak. Aku ada janji sama Mbak Nasya," jawab Mayya sopan dan tersenyum.
"Owh. Sebentar, ya, Mbak."
Tidak lama setelah sang gadis menghubungi orang yang dicari melalui telepon, seorang wanita dengan berhijab maroon muncul dari dalam.
"Assalamualaikum, May." Mereka saling berpelukan setelah Mayya menjawab salam.
"Mbak, sudah siap, kan pesananku kemarin?"
"Maaf, May. Hanya ada dua yang kosong. Habis kamunya telat, sih."
"Iya, Mbak. Maaf, ya," jawab Mayya menoleh kepada dua sahabatnya. "Nggak apa-apa, deh, Mbak. Mereka dulu, saya yang terakhir saja." Kedua sahabatnya menggeleng cepat.
"Aku saja yang terakhir," pinta mereka kompak. Mayya menggeleng dan tersenyum. Ia menarik kedua sahabatnya itu ke kursi yang masih kosong.
"Silakan."
"Makasih, Mbak."
Mau tak mau Syafa dan Christ menuruti Mayya, duduk dan menjalani perawatan wajah. Satu bulan lagi, dua gadis itu akan menjadi braismade di pernikahan Mayya.
"Glaze them up, Mbak," pinta Mayya kepada sang terapis kecantikan sambil tertawa.
"Siap, Mbak May."
"Oh, iya, Mbak. Sambil tanya-tanya boleh, ya?" tanya Christ yang masih penasaran dengan istilah 'glazed' yang pernah ia baca. Mereka pun memulai obrolan selama terapis melakukan persiapan perawatan.
"Jadi, glazed itu kondisi kulit yang mengkilap maksimal dan lembut, Mbak. Kondisi demikian ini tidak bisa didapat hanya dengan sekali dua kali pemaiakan skincare. Tapi melalui beberapa tahap," jelas sang Terapis menatap Syafa yang melepas kerudungnya. Mereka ke salon khusus muslimah, sehingga bebas melepaskan kerudung agar perawatan wajahnya lebih leluasa.
"Pertama, double cleansing dengan penggunaan basic skincare routine seperti Facial Wash, Moisturizer, dan Sunscreen.
Yang kedua, gunakan juga produk yang memberikan manfaat untuk menghidrasi kulit dan memperkuat skin barrier.
Terus yang ke tiga, menggunakan produk perawatan kulit yang dapat mencerahkan kulit secara maksimal." Gadis berkerudung putih itu menatap Syafa yang duduk di depannya yang juga tengah menatapnya.
"Nah, kalau sudah melakukan tiga tahapan tadi, baru tahapan berikutnya. Yaitu penggunaan skincare tambahan," tambahnya.
"Di salon kami, menggunakan produk ini, Mbak." Sang Terapis kecantikan mengambil sebuah botol kecil yang tertata rapi di depan cermin. Sebuah produk bertuliskan B Erl Active Glow Booster Serum. Lalu Syafa meraih produk tersebut dan mengamatinya lebih dekat.
"Memang apa manfaat produk ini, Mbak?" tanya Syafa yang masih merasa penasaran.
"B Erl Active Glow Booster Serum ini mampu menjadikan wajah cerah mengkilap maksimal dan juga menutrisi kulit lebih banyak, sehingga perawatan kulit dapat menjadi lebih optimal, Mbak." Syafa mengangguk-angguk mengerti penjelasan terapis yang sangat gamblang.
"Eh, jangan bergerak-gerak, Mbak," protes gadis berhijab putih itu tertawa. Ia tengah mengoleskan krim pembersih di wajahnya.
"Eh?" Syafa pun tertawa menyadari kekeliruannya. Tak sengaja Syafa melirik ke arah Christ yang tengah memejamkan mata.
"Loh, kok tidur, Christ."
"Eh, enggak, ya. Aku kan menyimak penjelasan Mbak Terapis juga, Fa."
"Lalu, Mbak. Pakai produk tambahannya itu kapan? Pagi? Siang? Malam?" Gadis berhijab putih lekas menoleh ke arah Syafa yang menatapnya melalui cermin.
Sang gadis tersenyum, lalu menjawab, "B Erl Active Glow Booster Serum digunakan sebelum serum, Mbak. Jadi setiap kali Mbak-Mbak akan menggunakan serum, pakai dulu produk itu."
"Owh, gitu, ya," sahut Syafa mengangsurkan produk yang dipegangnya ke Christ yang duduk di sampingnya.
"Mm ... kira-kira butuh waktu berapa lama wajah kita bisa nge-glazed seperti sahabat kita itu, Mbak?" Christ menunjuk Mayya yang menekuri ponselnya di kursi tunggu dengan dagunya.
"Yang jelas perlu waktu, Mbak. Karena produk ini bukan bukan produk sim salabim. Sekali pakai langsung 'cling'." Syafa dan Christ hanya bisa menahan tawa karena saat ini mereka tengah menjalani proses facial olah terapisnya.
Usai melakukan perwatan, Syafa dan Christ menunggu Mayya di kursi tunggu. Tidak perlu lama karena tadi Mayya lekas mendapatkan kursi kosong untuk perawatan.
Mereka meninggalkan salon dan menuju kafe Julie yang Mayya kelola. Lokasinya tidak jauh dari mall, hanya perlu lima menit berjalan kaki.
**
Hari pernikahan Mayya tiba. Ia tampil istimewa. Dengan riasan minimalis dan balutan baju pengantin yang indah, membuat banyak hadirin berdecak kagum menatapnya. Didampingi dua breismade yang penampilannya juga tak kalah sempurna.
"Masyaallah ...." Ungkapan kagum banyak terdengar. Tak terkecuali dari pengantin pria yang menatap pengantin wanita dengan seulas senyum manisnya.



